Tuesday, December 18, 2007

Saham Merpati Akan Dilepas

Presiden Direktur PT Merpati Hotasi Nababan di sela-sela acara ulang tahun Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) ANTARA, Kamis (13/12) di Jakarta, mengatakan, sesuai dengan rencana pemerintah, Merpati akan diprivatisasi melalui penempatan saham mitra strategis secara langsung. "Rencananya pelepasan saham dilakukan pertengahan tahun depan," kata Hotasi.

Hotasi tidak mengungkapkan nilai dari 40 persen saham tersebut. Menurut dia, seperti proses privatisasi umumnya, nilainya akan sangat tergantung dari persepsi pasar.

Soal calon mitra strategis, Hotasi mengatakan sudah ada beberapa calon, baik dari dalam maupun luar negeri yang menyatakan minatnya masuk di Merpati.

Disebutkan, selain perusahaan maskapai penerbangan, ada juga perusahaan lembaga keuangan. Untuk pengembangan perusahaan, Hotasi mengungkapkan, tahun depan merupakan momen bagi Merpati untuk bangkit.

Selain menambah frekuensi penerbangan di rute yang sudah ada, Merpati juga akan menghidupkan kembali rute tradisional serta membuka rute pendek atau penerbangan komuter.

Rute-rute feeder yang akan dibuka, yakni di Pulau Jawa, Kalimantan, Sumatera, dan Sulawesi. dengan konsep new commuter service (NCS)

Selain membeli 15 pesawat MA-60 dari China, Merpati juga berencana menambah armada dengan memesan 10 pesawat Cassa 212 dari PT Dirgantara Indonesia senilai 50 juta dollar AS.

Pemisahan MMF

Pada kesempatan itu, Hotasi mengatakan, PT Merpati Nusantara Airlines akan memisahkan pengelolaan manajemen salah satu unit bisnis strategisnya, Merpati Maintenance Facility (MMF). Pada awal tahun 2008 Merpati akan menjual sebagian sahamnya di perusahaan itu.

Dengan pemisahan ini, MMF diharapkan tidak hanya fokus pada perawatan pesawat-pesawat kecil, tetapi juga melayani pesawat-pesawat berbadan besar seperti yang dilakukan oleh Garuda Maintenance Facility (GMF).

Beberapa jenis pesawat yang masuk dalam daftar perawatan MMF, antara lain DHC-6 Twin Otter, Fokker F-27, F-28, F-100, dan Boeing 737 seri 200, 300, serta 400.

Sementara itu, konsumennya, selain maskapai dari dalam negeri, juga terdapat beberapa maskapai dari luar negeri, seperti Thailand, Malaysia, serta Selandia Baru.

Hotasi mengatakan, pihaknya akan melepas 49 persen saham PT MMF secara bertahap. Tahap pertama 30 persen dan tahap kedua 19 persen. "Dengan demikian, sisanya, 51 persen tetap akan dimiliki oleh Merpati," kata Hotasi. Saat ini 60 persen pesawat Merpati dirawat di MMF. (OTW)

Merpati Garap Rute Penerbangan Wilayah Barat

Maskapai PT Merpati Nusantara Airlines (MNA) menggarap rute penerbangan di wilayah barat atau Sumatera mulai awal Desember mendatang, untuk melengkapi rute wilayah Kawasan Timur Indonesia (KTI) yang selama ini menjadi andalan.

Rencana pembukaan rute barat itu, disampaikan General Manager PT MNA Region Surabaya, Irvan Harijanto di sela-sela media gathering di Surabaya, Jumat.

"Pangsa pasar terbesar Merpati selama ini memang wilayah KTI, tapi mulai awal Desember mendatang, kami membuka jalur penerbangan di wilayah barat," kata Irvan Harijanto yang belum lama ini menjabat GM Region Surabaya.

Rute penerbangan wilayah barat yang akan dikembangkan diantaranya dari Surabaya menuju Medan, Pekanbaru, Lampung, dan Bintan. Rute-rute itu, juga dilayani dari Jakarta dengan rata-rata penerbangan dua kali sehari.

Selain itu, Merpati juga membuka rute penerbangan langsung sejumlah wilayah timur, seperti dari Surabaya menuju Manado, Mataram dan Kupang yang selama ini dilayani secara terputus (transit).

Didampingi Sales Manager Regional Surabaya Hiro Kristianto, ia mengakui, selama ini pangsa pasar terbesar Merpati berasal dari rute penerbangan wilayah timur yang mencapai di atas 60 persen, belum termasuk jalur perintis.

"Kami melihat potensi pasar yang cukup besar di sejumlah rute wilayah barat dan memutuskan untuk menggarapnya. Tapi rute-rute di wilayah timur masih tetap jadi andalan," kata mantan GM Corporate Secretary MNA itu.

Untuk layanan rute barat itu, Merpati telah mendatangkan tiga pesawat jenis Boeing 737-400 berkapasitas 170 tempat duduk dan satu unit jenis 737-300 dengan kapasitas sekitar 140 penumpang.

Manajemen Merpati merencanakan, hingga akhir 2008 mendatang akan menambah 10 armada pesawat jenis Boeing 737-400 dan 737-300. Sampai akhir 2007 ini, sudah enam pesawat tambahan yang dioperasikan.

Sebelumnya, Merpati telah mengoperasikan 12 pesawat jenis Boeing 737-200 dan tiga unit jenis 737-300, beberapa Fokker dan pesawat lain untuk melayani rute-rute domestik, terutama wilayah timur yang menjadi primadona.

"Investasi yang dialokasikan Merpati untuk penambahan pesawat, peningkatan kualitas layanan dan operasional lainnya mencapai Rp150 miliar," kata Irvan Harijanto menambahkan.

Dengan berbagai program yang dikembangkan, manajemen Merpati berharap bisa meningkatkan market share dari tujuh persen saat ini, menjadi 16 hingga 18 persen pada beberapa tahun kedepan.

Salah satu maskapai penerbangan nasional ini pernah mencapai pangsa pasar tertinggi di Indonesia yakni sekitar 38 persen pada 1997.

Namun, seiring bertambahnya pemain dalam bisnis ini dan berkurangnya armada pesawat yang dimiliki, pangsa pasar Merpati terus merosot dan sampai akhir 2006 hanya tinggal tujuh persen dari total sekitar 32,5 juta penumpang pesawat di Indonesia.

"Tahun ini, jumlah penumpang pesawat diprediksi sekitar 35 juta orang dan akan terus meningkat pada 2008. Kami berharap bisa merebut potensi itu, terutama pada rute-rute baru yang akan dibuka," katanya.
Sumber: Antara

Monday, December 17, 2007

KALIBRASI <- - - - gagasan Jeffrie Geovanie

Suyoto Phenomenon

DI panggung politik nasional, nama Suyoto mungkin masih asing. Bahkan di jajaran tokoh-tokoh politik lokal pun, popularitasnya masih jauh, misalnya, jika dibandingkan dengan Basuki T, Wardaya alias Ahok, mantan bupati Belitung Timur yang meninggalkan jabatannya untuk merebut kursi gubenur Bangka Belitung namun kalah secara tragis. Atau bupati Jembrana, Prof Dr I Gede Winasa, peraih piagam Musium Rekor Indonesia (MURI) lantaran persentase suaranya tertinggi dalam sejarah pilkada, yakni 88,56%. Kini, Winasa bahkan lebih populer karena belum lama ini dikabarkan “menculik” wartawati salah satu surat kabar terkemuka di Bali.

Siapakah Suyoto? Meskipun ayah dan ibu mertuanya warga Nahdlatul Ulama (NU), Suyoto adalah kader Muhammadiyah tulen. Mantan Rektor Universitas Muhammadiyah Gresik (UMG) dalam usia yang sangat muda (32 tahun), Ketua DPW PAN Jawa Timur, sekretaris Yayasan Syafii Maarif, dan Ketua Yayasan Indonesia untuk Semua. Ia baru saja memenangkan pemilihan Bupati Bojonegoro, Jatim, daerah yang dihuni mayoritas warga NU

Kemenangan Suyoto menjadi fenomenal karena membalik logika semua pihak: (1) ia bukan kandidat yang berlimpah materi; (2) pada awalnya tidak memiliki popularitas, bisa dikatakan hampir tak dikenal; (c) bahkan pada saat menawarkan diri untuk menjadi wakil bupati pun ditolak oleh kandidat lain karena dianggap remeh.

Tapi, di luar pengetahuan banyak pihak, Suyoto punya niat tulus dan tekad yang kuat. Dengan keterbatasan dana, sejak sembilan bulan lalu ia sudah bekerja pagi, siang, malam, dengan cara mendatangi hampir semua pesta (pernikahan, sunatan, dan lain-lain), menyalami semua tamu yang hadir seraya memperkenalkan diri; berkunjung ke pasar-pasar tradisional; dan yang lebih menarik, selama sembilan bulan itu pula, ia tak segan-segan menginap di rumah-rumah keluarga miskin secara bergantian, berdialog dengan para tetangga hingga menjelang subuh. Setelah shalat subuh, ia baru tidur, itu pun hanya sekitar 1-2 jam. Kebutuhan tidurnya banyak dipenuhi di mobil saat dalam perjalanan. Dalam kerja kerasnya, Suyoto sengaja menghindari publikasi media untuk lebih mengesankan dirinya sebagai underdog. Barangkali, faktor inilah yang membuat calon lain terkecoh.

Jika dicermati lebih jauh, kemenangan Suyoto telah memberikan sejumlah pesan: Pertama, bahwa faktor politik identitas yang selama ini banyak diekploitasi para kandidat karena dianggap memiliki keampuhan dalam menarik dukungan rakyat ternyata tidak terbukti. Suyoto membuktikan bahwa rakyat memilih bukan karena faktor ke-NU-an atau ke-Muhammadiyah-an. Artinya, jika mau sedikit kreatif, jauh lebih baik bagi para kandidat untuk menawarkan program, integritas pribadi, dan kualitas, ketimbang harus mengemis restu dari tokoh golongan ini atau itu.

Kedua, tidak benar bahwa dana yang melimpah menjadi faktor penentu kemenangan kandidat dalam Pilkada. Dengan dana yang minimal pun jika dibarengi kemauan yang keras dan kerja keras, niscaya akan menang.

Ketiga, kekuatan media cetak dan elektronik hanya efektif sebagai alat kampanye untuk wilayah-wilayah yang luas seperti provinsi atau tingkat nasional. Untuk di tingkat kabupaten atau kota, kampanye door to door, memperkenalkan diri dan berdialog dari hati ke hati jauh lebih efektif.

Last but not least, kemenangan Suyoto --juga kemenangan Nur Alam (Sultra), Abdul Gafur (Malut), Syahrul Yasin Limpo (Sulsel), dan Syarif Hidayat (Kota Tasikmalaya)-- menunjukkan bahwa rakyat sudah cukup cerdas. Incumbent yang belum mampu memberikan perbaikan buat kehidupan mereka akan mendapatkan punishment pada saat pemilu berikutnya. Untuk itu, bagi semua incumbent di level mana pun yang akan mengikuti pemilu, waspadalah, rakyat tengah mengevaluasi kalian!***

Sunday, December 16, 2007

Libur Akhir Tahun: Tiket Ludes Merpati 70%

Seperti lazimnya, maskapai penerbangan sibuk luar biasa menjelang libur panjang akhir tahun ini. Banyak maskapai yang tiket yang tersedia tinggal sedikit.

Misalnya saja maskapai MerpatiAir. "70 Persen sudah terpesan lewat internet dan ATM (anjungan tunai mandiri)," ujar Humas Adam Air Danke Drajad kepada detikcom, Jumat (14/12).

Menurut mantan presenter sebuah stasiun televisi swasta ini, tiket yang ludes terpesan itu paling banyak untuk keberangkatan ke Bali.


Merpati Nusantara Airlines (MNA) telah melego 70 persen jatah tiketnya. Lonjakan pemesanan baru akan terjadi pekan depan.

"Pemesanan pada pekan depan diperkirakan 85-90 persen," ujar Humas MNA Widodo Aryanto pada detikcom.

Meski demikian, imbuh Widodo, MNA menerapkan tarif normal.

"Libur panjang termasuk dalam week season itu masuk tarif normal. Tapi kalau low season kita terapkan tarif murah. Jadi istilahnya bukan naik tarif," jelas Widodo.

Saturday, December 15, 2007

Merpati Buka Lagi Dua Rute Baru

Merpati Nusantara Airlines bulan ini kembali membuka dua rute baru dari Jakarta-Surabaya-Manado dan Jakarta-Bandar Lampung menyusul kedatangan tiga pesawat tambahan pada awal Desember ini.

Sekretaris Perusahaan Merpati Purwatmo mengatakan selama ini perusahaan sudah menerbangi rute Jakarta-Manado, tetapi dilakukan melalui Makassar, sementara rute baru yang akan dibuka ini terbang dengan pesawat yang sama melalui Surabaya. Merpati juga kembali terbang ke Bandar Lampung setelah cukup lama ditinggalkan.

"Kedua rute baru itu akan kami terbangi mulai pekan depan yakni Jakarta-Surabaya-Manado menggunakan pesawat Boeing 737 seri 400 satu kali setiap hari, sementara untuk rute Jakarta-Bandar Lampung juga pekan depan dengan frekuensi dua kali sehari," ujar Purwatmo kepada Bisnis.

Merpati kini gencar membuka rute baru yang sebelumnya pernah diterbangi perusahaan itu. Pekan lalu misalnya, Merpati kembali menerbangi Jakarta-Medan menggunakan pesawat Boeing 737-400. Perusahaan ini juga membuka rute Jakarta-Pekanbaru. Kedua rute ini pernah diterbangi BUMN itu.

Dengan penambahan rute baru dan peningkatan frekuensi tersebut, kata Purwatmo, frekuensi terbang Merpati kini mencapai 150 kali dalam sehari dari sebelumnya 106 kali. Kapasitas tempat duduk yang disediakan perusahaan itu setiap harinya mencapai 170.000 atau totalnya 5,2 juta per tahun.

Maskapai pelat merah itu menjelang tutup tahun 2007 ini menambah sedikitnya 5 unit pesawat jenis Boeing 737-400 yang disewa dari perusahaan lessor Futura dari Spanyol sebesar US$250.000 per bulan. Ke lima pesawat itu tiga unit Boeing 737-400 telah tiba di Jakarta pada Jumat dan Sabtu pekan lalu, sementara sisanya sebanyak dua unit akan datang pada akhir tahun ini atau paling lambat Januari 2008.

Friday, December 14, 2007

CN 235


The CN235 regional airline and military tactical transport was designed and developed under the Airtech banner as A 50.

One prototype was built in both countries and these rolled out simultaneously on September 10 1983. The Spanish prototype flew first, on November 11 1983, with the Indonesian built aircraft following on December 30 that year.





Certification by both Spanish and Indonesian authorities and first deliveries (from the Indonesian line) occurred in December 1986. Entry into commercial service was in March 1988.

Final assembly lines for the CN235 are in Spain and Indonesia, but all other construction is not duplicated. CASA is responsible for the centre and forward fuselage, wing centre section and inboard flaps, and engine nacelles. IPTN builds outer wings and flaps, ailerons, the rear fuselage and the tail unit.

The initial production CN23510 was soon replaced by the CASA built CN235100 and IPTN's CN235110, incorporating CT79C engines in place of CT77As, and new composite engine nacelles. Further improvements led to the CASA CN235200 and similar IPTN CN235220 with increased operating weights, better field performance and greater range, with structural improvements and improved leading edge flaps and rudder. The CN235220 was certificated in March 1992. CASA and IPTN now develop their own CN235 variants independently.

Other variants on the CN235 theme are the CN235 QC quick change capable of carrying passengers or freight or both; IPTN's CN235 MPA maritime patrol aircraft and CASA's CN235MP Persuader (which while primarily aimed at military customers, have customs and boarder patrol applications); and the widely ordered CN235 M multirole military freighter. IPTN is marketing military CN235s as the Phoenix. CASA has developed the stretched C-295, primarily for military use.

The CN235 has succeeded in achieving only a small number of commercial orders, mostly from Indonesian and Spanish operators. In contrast the CN235's spacious interior and rear loading ramp has helped it win a significant number of military orders.




Dimensions

Overall Length : 70 ft 3 in (21.40 m)
Wing Span : 84 ft 8 in (25.81 m)
Height : 26 ft 10 in (8.18 m)
Fuselage : 636.17 sq ft


Nomenclature

Operating Empty Weight : 21, 605 lbs (9800 kg)
Max Take Off Weight : 33,290 lbs (9800 kg)


Power plant : Two 1395kW (1870shp) General Electric CT79C turboprops.











Thursday, December 13, 2007

DHC Twin Otter

The DHC-6 Twin Otter, manufactured by The de Havilland Aircraft of Canada, is an all metal, high-wing monoplane, powered by two Pratt and Whitney PT6A-27 engine driving Hartzell fully feathering, reversing, and constant speed propellers. The aircraft is designed for passengers and provided with a steerable nose wheel fixed tricycle landing gear, or can be fitted with floats or skis.


Dimensions

Overall Length : 51 ft 6 in
Wing Span : 65 ft 0 in
Height : 19 ft 6 in








Design Criteria

Max. Take-Off Weight : 12,500 lbs
Max. Landing Weight : 12,300 lbs
Max. Zero Fuel Weight : 7,000 lbs


Cabin Data

Front Baggage Comp. : 38 cu ft (300 lb)
Rear Baggage Comp. : 88 cu ft (500 lb)
Cabin Volume : 384 cu ft
Number of Seat : 19


Powerplant : Pratt and Whitney PT6A-27